Menyepi di Desa Ohara Kyoto Menemukan Ketenangan Jiwa di Kaki Gunung Hiei

Menjelajahi keindahan taman lumut kuno dan kehangatan tradisi lokal jauh dari keriuhan turis kota Kyoto

- Penulis

Rabu, 2 September 2026 - 07:01 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif
+ Apresiasi

Taman lumut ikonik di Kuil Sanzen-in, Desa Ohara, Kyoto, menyajikan suasana tenang dengan patung batu Jizo yang tersebar di antara pepohonan cedar rindang.

Taman lumut ikonik di Kuil Sanzen-in, Desa Ohara, Kyoto, menyajikan suasana tenang dengan patung batu Jizo yang tersebar di antara pepohonan cedar rindang.

Ketika riuh wisatawan memadati pusat kota Kyoto demi berburu foto kuil populer, sebuah desa tersembunyi di kaki Gunung Hiei menawarkan ritme hidup yang jauh lebih tenang.

Desa bernama Ohara ini berjarak sekitar satu jam perjalanan bus dari stasiun utama, menyimpan pesona pedesaan yang menyajikan suasana Jepang masa lalu nan autentik.

Perjalanan menuju kawasan utara ini menyuguhkan pemandangan bukit hijau berlapis kabut tipis yang seolah menyapa setiap pelancong saat meninggalkan hiruk-pikuk perkotaan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Langkah kaki pertama di atas jalan setapak berbatu akan langsung disambut oleh aroma tanah basah dan gemericik air sungai jernih yang mengalir di samping kedai-kedai lokal.

Warga setempat yang ramah kerap menyapa pengunjung sambil menata hasil panen sayuran segar di depan rumah kayu tradisional beratap jerami yang masih terawat rapi.

Menemukan Ketenangan di Kuil Sanzen-in

Destinasi utama yang menjadi jantung spiritual desa ini adalah Kuil Sanzen-in, sebuah kompleks peribadatan kuno yang didirikan sejak awal periode Heian oleh pendeta ternama.

Taman lumut di dalam kuil menyajikan hamparan hijau bagai karpet alam yang diselilingi pepohonan cedar menjulang tinggi serta patung-patung batu Jizo berukuran mungil.

Patung-patung batu yang tampak tersenyum di antara gumpalan lumut hijau ini dipercaya sebagai pelindung anak-anak dan pengelana yang sedang melintasi kawasan pegunungan tersebut.

Duduk bersila di selasar bangunan kayu kuil sambil menyesap secangkir teh hijau hangat memberikan kedamaian emosional yang sulit ditemukan di tengah kepungan kepenatan harian.

Suara desir angin yang melintasi dedaunan cedar berpadu harmonis dengan dentang lonceng perunggu kuil, menciptakan musik alami yang menenangkan pikiran secara perlahan.

Bagi wisatawan yang menyukai keheningan, waktu terbaik untuk menikmati keindahan tempat ini adalah pagi hari sebelum rombongan turis lokal tiba dari pusat kota.

Baca Juga :  Kembalinya Pesona Kereta Malam Mewah Eropa Sebagai Tren Wisata Berkelanjutan Dunia

Seni Kuliner Tradisional yang Merawat Bumi

Kejelian warga desa Ohara dalam merawat tradisi tidak hanya terlihat dari kelestarian bangunan lama, tetapi juga terpancar kuat dari sajian kuliner rumahan mereka.

Shojin ryori, masakan vegetarian khas biarawan Zen, menjadi hidangan wajib yang disajikan menggunakan bahan-bahan organik segar hasil petikan langsung dari kebun warga sekitar.

Mangkuk-mangkuk kecil berisi tahu lembut, olahan rebung, wortel rebus, serta sup miso beraroma gurih ditata secara estetik untuk menghormati setiap kebaikan bahan makanan.

Sensasi rasa yang sederhana namun kaya akan kedalaman rempah lokal membuat santapan ini terasa begitu menyehatkan tubuh sekaligus memanjakan lidah tanpa rasa berlebihan.

Desa ini juga sangat terkenal dengan produk acar tsukemono yang diolah secara tradisional menggunakan garam laut dan proses fermentasi dedak beras selama bertahun-tahun.

Para pemilik kedai tua dengan senang hati membagikan cerita mengenai proses pembuatan acar ini kepada setiap pengunjung yang mampir untuk sekadar mencicipi.

Menelusuri Jejak Budaya Perempuan Ohara

Sejarah unik kawasan ini juga menyimpan kisah para Ohara-me, yakni perempuan pedagang kayu bakar yang dahulu berjalan kaki menuju Kyoto demi menyokong ekonomi keluarga.

Pakaian khas mereka yang terdiri dari kimono biru tua, celemek putih, dan kain penutup kepala menjadi simbol ketangguhan yang kini diabadikan dalam festival tahunan.

Menjelajahi museum kecil di sudut desa membuka wawasan berharga mengenai bagaimana peran perempuan pedesaan menjadi pilar penting keberlanjutan ekonomi daerah pegunungan.

Cenderamata berupa kain tenun tangan berwarna biru indigo buatan perajin lokal menjadi buah tangan autentik yang membawa serta cerita perjuangan perempuan masa lalu.

Setiap lembaran kain tenun menyimpan ketelitian jemari perajin tua yang mendedikasikan hidup mereka demi menjaga teknik pewarnaan alami dari tanaman indigo rumahan.

Baca Juga :  Panduan Menjelajahi Slovenia dan Rahasia Keindahan Alam Eropa Tengah yang Belum Banyak Terjamah Wisatawan

Panduan Perjalanan Praktis untuk Pelancong Indonesia

Menjangkau desa terpencil ini terbilang sangat mudah karena layanan bus umum berangkat secara rutin setiap dua puluh menit dari terminal stasiun kereta Kyoto.

Pelancong disarankan membeli tiket terusan transportasi harian agar biaya perjalanan menjadi jauh lebih hemat serta efisien selama menjelajahi sudut-sudut utara kota.

Sepasang sepatu berjalan yang nyaman merupakan perlengkapan paling krusial mengingat sebagian besar medan penjelajahan berupa jalan berbatu dan tanjakan bukit yang landai.

Menginap satu malam di ryokan lokal memberi kesempatan langka menikmati pemandian air panas alami sambil memandangi langit malam pedesaan yang bebas dari polusi cahaya.

Keramahan tulus dari para pengelola penginapan keluarga akan menyambut setiap tamu dengan sajian teh hangat dan selimut tebal yang menyiapkan fisik untuk istirahat malam.

Kunjungan ke kawasan pedesaan ini memberikan perspektif baru tentang bagaimana keharmonisan antara tradisi kuno dan pemeliharaan alam bisa berjalan selaras tanpa saling merusak.

Pengalaman otentik tersebut menyadarkan kita bahwa kemewahan perjalanan sejatinya bukan terletak pada kemegahan fasilitas, melainkan pada keheningan jiwa yang berhasil kita temukan.

Jejak spiritual dan kedamaian alami Ohara melengkapi perjalanan di Jepang menjadi sebuah kisah perjalanan jiwa yang berkesan mendalam hingga bertahun-tahun mendatang.

Saat melangkah pulang meninggalkan Ohara, kenangan akan keramahan warga dan kesejukan udara pegunungan akan terus membakar kerinduan untuk kembali menyusuri jalan setapaknya.

Follow WhatsApp Channel heitravel.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menjelajah Tempat Sejuk dan Sunyi Jadi Pilihan Utama Pelancong Dunia Sepanjang Tahun Ini
Pesona Georgia: Menjelajah Negeri Kaukasus dengan Pemandangan Eropa dan Biaya Terjangkau
Kembalinya Pesona Kereta Malam Mewah Eropa Sebagai Tren Wisata Berkelanjutan Dunia
Menjelajahi Sudut Tersembunyi Kyoto untuk Menemukan Ketenangan Wisata Budaya Jepang
Menemukan Ketenangan Jiwa di Ine no Funaya Desa Pesisir Tersembunyi Kyoto
Arah Baru Perjalanan Global Memikat Pelancong Berburu Ketenangan dan Wilayah Sejuk
Panduan Menjelajahi Slovenia dan Rahasia Keindahan Alam Eropa Tengah yang Belum Banyak Terjamah Wisatawan
Arah Baru Pariwisata Dunia: Berburu Ketenangan dan Pengalaman Otentik di Destinasi Tersembunyi

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 07:01 WIB

Menyepi di Desa Ohara Kyoto Menemukan Ketenangan Jiwa di Kaki Gunung Hiei

Minggu, 30 Agustus 2026 - 07:02 WIB

Menjelajah Tempat Sejuk dan Sunyi Jadi Pilihan Utama Pelancong Dunia Sepanjang Tahun Ini

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 07:11 WIB

Pesona Georgia: Menjelajah Negeri Kaukasus dengan Pemandangan Eropa dan Biaya Terjangkau

Jumat, 28 Agustus 2026 - 07:07 WIB

Kembalinya Pesona Kereta Malam Mewah Eropa Sebagai Tren Wisata Berkelanjutan Dunia

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:09 WIB

Menjelajahi Sudut Tersembunyi Kyoto untuk Menemukan Ketenangan Wisata Budaya Jepang

Berita Terbaru